Pernah merasa mudah lelah, sering pusing, atau sulit berkonsentrasi meskipun sudah cukup beristirahat? Keluhan tersebut terkadang dianggap sebagai akibat terlalu banyak beraktivitas, padahal bisa juga menjadi tanda anemia. Mengenali gejalanya sejak awal penting agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.

 

Apa Itu Anemia?

Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah dari batas normal sesuai usia, jenis kelamin, dan kondisi seseorang. Hemoglobin merupakan protein di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Ketika kadar hemoglobin menurun, pasokan oksigen ke jaringan tubuh dapat berkurang sehingga seseorang lebih mudah merasa lelah dan lemas [1].

Anemia bukanlah satu jenis penyakit yang berdiri sendiri, melainkan kondisi yang dapat disebabkan oleh berbagai masalah kesehatan. Salah satu jenis yang paling umum adalah anemia defisiensi besi, yaitu anemia akibat tubuh kekurangan zat besi untuk membentuk hemoglobin.

 

Gejala Anemia yang Perlu Diwaspadai

Gejala anemia dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung tingkat keparahan dan penyebabnya. Pada tahap awal, anemia ringan bahkan dapat tidak menimbulkan keluhan yang jelas.

Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Mudah lelah dan lemas: Tubuh terasa kurang bertenaga meskipun tidak melakukan aktivitas berat.

  • Pusing atau sakit kepala: Dapat muncul terutama ketika beraktivitas.

  • Kulit terlihat lebih pucat: Terutama pada wajah, bagian dalam kelopak mata, atau telapak tangan.

  • Sesak napas: Napas terasa lebih pendek, khususnya saat melakukan aktivitas fisik.

  • Jantung berdebar: Detak jantung terasa lebih cepat atau tidak nyaman.

  • Sulit berkonsentrasi: Aktivitas yang membutuhkan fokus terasa lebih berat.

Pada anemia akibat kekurangan zat besi, sebagian orang juga dapat mengalami kuku rapuh, rambut rontok, lidah terasa nyeri, atau keinginan mengkonsumsi benda yang bukan makanan, seperti es batu [2].

Perlu diingat, gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami anemia. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Anemia

Anemia dapat terjadi karena tubuh tidak memproduksi sel darah merah dalam jumlah cukup, kehilangan darah, atau sel darah merah mengalami kerusakan lebih cepat daripada kemampuan tubuh menggantinya [1].

Beberapa penyebab dan faktor risiko yang umum meliputi:

  1. Kekurangan zat besi: Dapat terjadi akibat asupan zat besi yang kurang, penyerapan zat besi yang terganggu, atau kehilangan darah.

  2. Kekurangan vitamin B12 dan folat: Kedua nutrisi ini dibutuhkan dalam proses pembentukan sel darah merah.

  3. Kehilangan darah: Misalnya akibat menstruasi berlebihan, perdarahan saluran pencernaan, atau kondisi medis tertentu.

  4. Penyakit kronis: Penyakit ginjal, peradangan kronis, dan beberapa penyakit lainnya dapat mengganggu produksi sel darah merah.

  5. Faktor keturunan: Kelainan genetik seperti talasemia dan anemia sel sabit dapat memengaruhi bentuk atau fungsi sel darah merah [2,3].

Ibu hamil, perempuan dengan menstruasi berlebihan, anak-anak dalam masa pertumbuhan, serta orang dengan pola makan yang kurang beragam termasuk kelompok yang perlu memperhatikan risiko anemia.

 

Bagaimana Anemia Didiagnosis?

Diagnosis anemia tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala atau tampilan fisik. Dokter akan melakukan wawancara medis mengenai keluhan, pola makan, riwayat menstruasi, penyakit sebelumnya, dan riwayat kesehatan keluarga.

Pemeriksaan yang umum dilakukan adalah tes darah lengkap (Complete Blood Count/CBC) untuk mengetahui kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, serta karakteristiknya. Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan tambahan seperti kadar feritin (protein penyimpan zat besi), vitamin B12, folat, atau pemeriksaan untuk mencari sumber perdarahan [4].

Menurut pedoman WHO tahun 2024, batas hemoglobin untuk menentukan anemia berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kondisi kehamilan. Karena itu, hasil pemeriksaan perlu dinilai menggunakan standar yang sesuai dengan kondisi masing-masing orang [5].

 

Pilihan Penanganan dan Pengobatan Anemia

Penanganan anemia bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan pasien. Tidak semua anemia dapat ditangani dengan cara yang sama [1,6].

Beberapa pilihan penanganan yang dapat dipertimbangkan dokter meliputi:

  • Perbaikan asupan nutrisi: Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, dan asam folat sesuai kebutuhan.

  • Suplemen zat besi atau vitamin: Diberikan apabila pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan nutrisi tertentu.

  • Penanganan penyakit penyebab: Misalnya mengatasi perdarahan, mengendalikan penyakit kronis, atau menangani gangguan penyerapan nutrisi.

  • Terapi medis lanjutan: Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan obat khusus, transfusi darah, atau tindakan lain sesuai penyebab dan tingkat keparahan anemia [6].

Penting untuk tidak mengkonsumsi suplemen zat besi secara sembarangan. Kelebihan zat besi dapat membahayakan organ tubuh, terutama jika anemia yang dialami bukan disebabkan oleh kekurangan zat besi [6].

 

Cara Mencegah Anemia dan Menjaga Kesehatan Sehari-hari

Meskipun tidak semua jenis anemia dapat dicegah, beberapa kebiasaan sehat dapat membantu mengurangi resikonya.

Berikut langkah sederhana yang dapat diterapkan:

  1. Konsumsi makanan kaya zat besi, seperti daging, ikan, ayam, telur, kacang-kacangan, dan sayuran berdaun hijau.

  2. Lengkapi kebutuhan vitamin C melalui buah-buahan seperti jeruk, jambu biji, dan pepaya untuk membantu penyerapan zat besi dari makanan.

  3. Penuhi kebutuhan vitamin B12 dan folat melalui pola makan bergizi seimbang.

  4. Perhatikan kondisi menstruasi. Jika darah menstruasi sangat banyak atau berlangsung lebih lama dari biasanya, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

  5. Lakukan pemeriksaan kesehatan bila diperlukan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia [1].

Selain menjaga pola makan, penting juga untuk memperhatikan perubahan kondisi tubuh. Jangan menganggap rasa lelah berkepanjangan sebagai sesuatu yang selalu normal.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan kondisi kesehatan apabila mengalami kelelahan yang tidak membaik, sering pusing, kulit tampak pucat, atau sesak napas ketika beraktivitas. Pemeriksaan lebih awal membantu dokter mengetahui apakah keluhan berkaitan dengan anemia atau kondisi kesehatan lainnya.

Ada beberapa tanda yang membutuhkan perhatian medis segera, antara lain:

  • Sesak napas berat atau kesulitan bernapas.

  • Nyeri dada atau jantung berdebar disertai keluhan berat.

  • Pingsan atau hampir kehilangan kesadaran.

  • Perdarahan aktif dalam jumlah banyak.

  • BAB berwarna hitam seperti aspal atau disertai darah.

Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, pingsan, atau perdarahan hebat, segera cari pertolongan di instalasi gawat darurat (IGD). Jangan menunda pemeriksaan karena menganggap keluhan tersebut hanya akibat anemia.

 

Jangan Abaikan Gejala Anemia

Anemia bukan sekadar kondisi mudah lelah atau kurang berenergi. Kondisi ini dapat menjadi petunjuk adanya kekurangan nutrisi, perdarahan, maupun penyakit tertentu yang membutuhkan perhatian medis.

Mengenali gejala sejak dini, menjaga asupan nutrisi, dan melakukan pemeriksaan kesehatan merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup. Jika mengalami keluhan yang mengarah pada anemia, jangan terburu-buru mengkonsumsi suplemen sendiri. Konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya diketahui dan penanganannya sesuai kebutuhan.

 

DISCLAIMER:

Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis atau saran medis profesional. Informasi di dalamnya tidak dapat digunakan untuk menentukan diagnosis maupun pengobatan secara mandiri. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan terpercaya.

 

META DESKRIPSI:

Kenali anemia, mulai dari gejala awal, penyebab, faktor risiko, hingga cara mengatasinya. Ketahui kapan perlu memeriksakan diri ke dokter.

 

SUMBER RUJUKAN

[1] World Health Organization (2025). Anaemia – Fact Sheet. WHO – Anaemia

[2] National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), NIH. Iron-Deficiency Anemia. NHLBI – Iron Deficiency

[3] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Anemia – Penyebab dan Faktor Risiko. Kemenkes – Anemia

[4] National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), NIH. Anemia – Diagnosis. NHLBI – Diagnosis

[5] World Health Organization (2024). Guideline on Haemoglobin Cutoffs to Define Anaemia in Individuals and Populations. WHO – Haemoglobin Guidelines

[6] National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), NIH. Anemia – Treatment and Management. NHLBI – Treatment