Demam Berdarah Dengue Tidak Selalu Diawali Gejala Berat

Demam tinggi yang muncul tiba-tiba memang bisa disebabkan oleh berbagai kondisi. Namun, jika demam disertai sakit kepala, nyeri tubuh, mual, atau muncul ruam, DBD perlu menjadi salah satu kondisi yang diperhatikan.

Mengenali gejala dan tanda bahaya sejak awal dapat membantu seseorang mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis yang tepat waktu.

 

Apa Itu Demam Berdarah Dengue?

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue (DENV) dan terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang telah terinfeksi. [1]

Dengue banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis. WHO memperkirakan sekitar 100–400 juta infeksi dengue terjadi setiap tahun di seluruh dunia, meskipun sebagian infeksi tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan keluhan ringan. [1]

Pada sebagian besar kasus, penderita dapat pulih dalam sekitar 1–2 minggu. Namun, dengue juga dapat berkembang menjadi dengue berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. [1]

 

Gejala DBD yang Perlu Diwaspadai

Gejala dengue umumnya muncul sekitar 4–10 hari setelah seseorang terinfeksi. Keluhan yang dapat muncul antara lain demam tinggi, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam pada kulit. [1]

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga mencantumkan demam tinggi, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri di belakang mata, serta ruam atau bintik merah sebagai gejala yang perlu diperhatikan. [2]

Salah satu hal penting yang perlu diketahui adalah demam yang mulai turun tidak selalu berarti kondisi sudah membaik. Pada sebagian penderita, fase kritis justru dapat terjadi ketika demam mereda, terutama sekitar hari ke-3 hingga ke-7 sejak gejala dimulai. [1, 3]

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Dengue disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang terinfeksi. Nyamuk penular dengue terutama aktif pada siang hari dan biasanya berkembang biak di wadah yang dapat menampung air. [1, 2]

Risiko penularan lebih tinggi pada wilayah tropis dan subtropis, termasuk daerah dengan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Riwayat infeksi dengue sebelumnya juga dapat meningkatkan risiko mengalami dengue berat pada infeksi berikutnya. [1]

 

Bagaimana DBD Didiagnosis?

Diagnosis dengue tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan gejala karena keluhannya dapat menyerupai berbagai penyakit lain. Dokter akan mempertimbangkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, perjalanan penyakit, dan bila diperlukan pemeriksaan laboratorium. [1, 4]

Pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk mendeteksi virus atau bagian dari virus, termasuk pemeriksaan antigen, pemeriksaan materi genetik virus, maupun pemeriksaan antibodi. Pemilihan pemeriksaan dapat bergantung pada waktu munculnya gejala dan kondisi pasien. [4]

Karena itu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan penting terutama ketika demam disertai gejala yang mengarah pada dengue.

 

Bagaimana Penanganan DBD?

Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus khusus yang secara spesifik menyembuhkan dengue. Penanganan terutama bertujuan menjaga kondisi pasien, memenuhi kebutuhan cairan, mengatasi keluhan, serta memantau kemungkinan munculnya tanda dengue berat. [1]

Pada kondisi tertentu, pasien dapat menjalani perawatan di rumah dengan istirahat dan asupan cairan yang cukup sesuai anjuran tenaga kesehatan. Bila kondisi memburuk atau muncul tanda bahaya, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis dan dapat memerlukan perawatan di rumah sakit. [1, 2]

Penggunaan obat pereda nyeri atau demam sebaiknya mengikuti anjuran dokter. WHO menyarankan menghindari aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen karena dapat meningkatkan risiko perdarahan pada penderita dengue. [1]

 

Cara Mencegah DBD

Pencegahan DBD terutama dilakukan dengan mengurangi risiko gigitan nyamuk dan memberantas tempat perkembangbiakannya. Langkah yang dapat dilakukan meliputi menggunakan pakaian yang menutupi tubuh, menggunakan obat pengusir nyamuk, serta memasang kasa pada jendela atau pintu bila memungkinkan. [1]

Di lingkungan rumah, masyarakat dapat menerapkan prinsip 3M Plus, yaitu menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. [2]

 

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, napas cepat, perdarahan pada gusi atau hidung, muntah darah, darah dalam tinja, tubuh sangat lemas atau gelisah, rasa haus berlebihan, serta kulit pucat dan dingin. [1]

Tanda-tanda tersebut dapat muncul ketika kondisi berkembang menjadi dengue berat. Penurunan demam juga tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kondisi pasien karena fase kritis dapat terjadi ketika suhu tubuh mulai turun. [1, 3]

 

Penutup

DBD dapat menimbulkan gejala yang awalnya menyerupai penyakit demam lainnya. Karena itu, perhatikan perjalanan gejala, terutama ketika demam mulai mereda tetapi muncul keluhan baru atau kondisi tubuh justru memburuk.

Jika Anda atau anggota keluarga mengalami demam dengan gejala yang mengarah pada dengue, jangan menunggu hingga kondisi menjadi berat. Konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan agar kondisi dapat dinilai dan ditangani sesuai kebutuhan.

 

KEYWORDS: Kenali gejala DBD, penyebab, cara diagnosis, penanganan, pencegahan, serta tanda bahaya yang mengharuskan Anda segera mencari pertolongan medis.

 

DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis atau saran medis profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan terpercaya.

 

SUMBER RUJUKAN:

[1] World Health Organization (2025). Dengue and severe dengue. WHO – Dengue and severe dengue

[2] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024). Cara Mencegah DBD dengan Menjaga Lingkungan dan Diri Sendiri. Kemenkes RI – Cara Mencegah DBD

[3] World Health Organization (2009). Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control. WHO – Dengue Guidelines

[4] World Health Organization (2025). Laboratory testing for dengue virus: interim guidance. WHO – Laboratory testing for dengue virus