Pembuka

Batuk yang tidak kunjung membaik sering dianggap hanya akibat kelelahan, perubahan cuaca, atau aktivitas yang padat. Namun, jika batuk berlangsung cukup lama dan disertai keluhan lain, ada baiknya tidak mengabaikannya.

Tuberkulosis atau TBC dapat dialami siapa saja, termasuk mahasiswa dan pekerja muda. Mengenali gejalanya lebih awal dapat membantu seseorang mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

 

Apa Itu TBC?

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mengenai organ lain seperti ginjal, otak, tulang, dan tulang belakang. [1]

TBC menular melalui udara, terutama ketika seseorang dengan TBC paru yang menular batuk, bersin, berbicara, atau meludah sehingga bakteri dapat berada di udara dan terhirup oleh orang lain. [1]

Menurut WHO, pada 2024 diperkirakan sekitar 10,7 juta orang di seluruh dunia jatuh sakit akibat TBC dan sekitar 1,23 juta orang meninggal karena penyakit tersebut. Indonesia termasuk salah satu negara yang menyumbang jumlah kasus TBC terbesar secara global. [1,2]

Penting untuk membedakan infeksi TBC dan penyakit TBC. Seseorang yang terinfeksi bakteri TBC belum tentu mengalami penyakit TBC dan pada umumnya tidak menularkan bakteri kepada orang lain. [1]

 

Gejala TBC yang Perlu Diwaspadai

TBC dapat berkembang secara perlahan dan gejalanya terkadang ringan pada awalnya. [1]

Pada TBC paru, beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:

  • Batuk yang berlangsung lama.

  • Batuk berdahak atau terkadang disertai darah.

  • Nyeri dada.

  • Demam.

  • Berkeringat pada malam hari.

  • Mudah lelah atau merasa lemah.

  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas. [1]

Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan masyarakat untuk memperhatikan batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, terutama jika disertai sesak atau berkeringat pada malam hari, dan memeriksakannya ke fasilitas kesehatan. [3]

Gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang terkena TBC karena dapat terjadi pada berbagai penyakit lainnya. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

 

Penyebab dan Faktor Risiko TBC

Penyebab langsung TBC adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Risiko berkembang menjadi penyakit TBC lebih tinggi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah, kekurangan gizi, diabetes, atau kebiasaan menggunakan tembakau. [1]

Kontak erat dengan seseorang yang memiliki TBC paru juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terinfeksi, terutama jika terjadi dalam lingkungan dengan ventilasi yang kurang baik. [1]

Bagi mahasiswa atau first-jobber, tinggal di tempat yang padat, berbagi ruang dalam waktu lama, atau berada dekat dengan orang yang mengalami TBC tanpa pengobatan dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan pemeriksaan.

 

Bagaimana TBC Didiagnosis?

Diagnosis TBC tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala. Jika dokter atau tenaga kesehatan mencurigai TBC, pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan sampel dahak atau sampel dari bagian tubuh lain sesuai lokasi penyakit. [1]

WHO merekomendasikan pemeriksaan diagnostik cepat, termasuk pemeriksaan molekuler, sebagai salah satu pemeriksaan awal bagi orang yang memiliki tanda dan gejala TBC. Pemeriksaan lain seperti foto rontgen dada dapat digunakan sesuai kebutuhan klinis. [1]

Orang yang memiliki risiko lebih tinggi atau pernah melakukan kontak erat dengan pasien TBC juga dapat menjalani pemeriksaan untuk mengetahui adanya infeksi TBC sesuai penilaian tenaga kesehatan. [1]

 

Bagaimana TBC Ditangani?

TBC dapat diobati menggunakan kombinasi obat antituberkulosis yang diresepkan dan dipantau oleh tenaga kesehatan. Lama serta jenis pengobatan bergantung pada jenis TBC, kondisi pasien, dan apakah bakteri menunjukkan resistansi terhadap obat tertentu. [1]

Pengobatan harus dijalani sesuai petunjuk tenaga kesehatan dan tidak dihentikan sendiri meskipun gejala sudah membaik. Menghentikan pengobatan secara tidak tepat dapat meningkatkan risiko munculnya TBC yang resistan terhadap obat, yaitu kondisi ketika bakteri TBC tidak lagi merespons obat tertentu dengan baik. [1,3]

Karena itu, dukungan keluarga, lingkungan, dan tenaga kesehatan dapat membantu pasien menjalani pengobatan sampai selesai.

 

Cara Mencegah Penularan TBC

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk membantu mengurangi risiko penularan TBC, terutama ketika berada di lingkungan dengan kasus TBC:

  • Segera memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mengarah pada TBC. [1]

  • Menggunakan masker dan menerapkan etika batuk atau bersin ketika sedang mengalami gejala pernapasan. [1,3]

  • Memastikan ruangan memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang baik. [1]

  • Melakukan pemeriksaan apabila memiliki kontak erat dengan pasien TBC atau termasuk kelompok yang berisiko lebih tinggi. [1]

  • Jika telah didiagnosis TBC, mengikuti pengobatan dan anjuran tenaga kesehatan secara konsisten. [1]

Vaksin BCG juga digunakan di sejumlah negara untuk membantu melindungi bayi dan anak dari bentuk TBC yang berat. [1]

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jangan menunggu kondisi semakin berat untuk mencari pertolongan. Jika mengalami batuk berkepanjangan, terutama lebih dari dua minggu, atau batuk disertai darah, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, demam berkepanjangan, keringat malam, nyeri dada, atau sesak, sebaiknya segera diperiksa oleh dokter atau tenaga kesehatan. [1,3]

Jika pernah melakukan kontak erat dengan seseorang yang memiliki TBC, konsultasi juga penting meskipun belum merasakan gejala. Tenaga kesehatan dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Penutup

TBC bukan penyakit yang sebaiknya disembunyikan atau membuat seseorang merasa malu. Dengan mengenali gejalanya, melakukan pemeriksaan ketika diperlukan, dan menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan, seseorang dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga dirinya sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mengarah pada TBC, jangan mencoba mendiagnosis atau mengobati diri sendiri. Datanglah ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

 

KEYWORDS: Kenali gejala TBC, cara penularan, faktor risiko, diagnosis, pengobatan, dan langkah pencegahan agar TBC dapat ditangani sejak dini.

 

DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis atau saran medis profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan terpercaya.

 

SUMBER RUJUKAN:

[1] World Health Organization (2026). Tuberculosis – Fact Sheet. WHO: Tuberculosis

[2] World Health Organization (2025). Global Tuberculosis Report 2025. WHO: Global Tuberculosis Report 2025

[3] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2021). Apa Itu TOSS TBC dan Kenali Gejala TBC. Kemenkes RI: TOSS TBC dan Gejala TBC