Pembuka

Stroke sering dianggap sebagai penyakit yang hanya perlu dikhawatirkan ketika seseorang sudah lanjut usia. Padahal, usia muda bukan berarti seseorang sepenuhnya bebas dari risiko stroke.

Bagi mahasiswa dan first-jobber, mengenali tanda stroke dan memahami faktor risikonya adalah langkah penting. Yang paling penting, ketika gejala stroke muncul, jangan menunggu sampai membaik sendiri.

 

Apa Itu Stroke?

Stroke adalah kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah di otak. Gangguan tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak sehingga membutuhkan penanganan segera. [1]

Secara umum, stroke dibedakan menjadi stroke iskemik, yaitu stroke akibat penyumbatan pembuluh darah, dan stroke hemoragik, yaitu stroke akibat pecahnya pembuluh darah dan terjadinya perdarahan di otak. [1]

Menurut WHO, pada 2021 terdapat sekitar 11,9 juta kasus stroke baru di dunia dan sekitar 93,8 juta orang hidup dengan riwayat stroke. Stroke juga menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. [1]

Di Indonesia, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi stroke berdasarkan diagnosis dokter mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. [2]

 

Gejala Stroke yang Perlu Diwaspadai

Stroke biasanya muncul secara tiba-tiba. Gejalanya dapat berbeda tergantung bagian otak yang terdampak. [1]

Kementerian Kesehatan RI menggunakan tanda “SeGeRa Ke RS” untuk membantu masyarakat mengenali gejala stroke, yaitu: [3]

  • Se — Senyum tidak simetris atau wajah mencong ke satu sisi.

  • Ge — Gerak salah satu sisi tubuh melemah secara tiba-tiba.

  • Ra — Bicara pelo, sulit berbicara, atau tidak memahami pembicaraan.

  • Ke — Kebas atau kesemutan pada salah satu sisi tubuh.

  • R — Rabun atau gangguan penglihatan yang muncul tiba-tiba.

  • S — Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba, terutama jika belum pernah dirasakan sebelumnya, serta dapat disertai gangguan keseimbangan. [3]

Gejala seperti pusing, gangguan koordinasi, atau kehilangan penglihatan secara tiba-tiba juga dapat menjadi tanda stroke. [1]

Jika salah satu gejala tersebut muncul, jangan menunggu sampai gejalanya hilang. Segera cari pertolongan medis. [1,3]

 

Penyebab dan Faktor Risiko Stroke

Stroke dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa faktor tidak dapat diubah, seperti usia, riwayat stroke sebelumnya, kondisi jantung tertentu, dan faktor genetik. [1]

Sementara itu, banyak faktor risiko yang dapat dikendalikan, antara lain tekanan darah tinggi, merokok, kadar kolesterol tinggi, diabetes, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta konsumsi alkohol yang berlebihan. [1]

WHO menyebut tekanan darah tinggi sebagai salah satu faktor penyumbang utama stroke. [1] Kemenkes RI juga menekankan pentingnya mengendalikan hipertensi, diabetes, kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, dan kurang aktivitas fisik untuk mengurangi risiko stroke. [2,4]

Karena beberapa faktor risiko tersebut dapat mulai terbentuk sejak usia muda, menjaga kesehatan sejak sekarang tetap penting meskipun seseorang belum pernah mengalami masalah kesehatan serius.

 

Bagaimana Stroke Didiagnosis?

Stroke tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala. Ketika seseorang dicurigai mengalami stroke, tenaga kesehatan akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi neurologis dan menentukan jenis stroke. [1]

Pemeriksaan pencitraan otak, seperti CT scan atau MRI, dapat digunakan untuk membantu mengetahui apakah terjadi penyumbatan atau perdarahan serta menentukan penanganan yang sesuai. [1]

Karena stroke merupakan keadaan darurat, pemeriksaan dan penanganan perlu dilakukan sesegera mungkin. [1]

 

Pilihan Penanganan Stroke

Penanganan stroke bergantung pada jenis stroke, lokasi dan tingkat keparahan gangguan, serta waktu sejak gejala mulai muncul. [1,5]

Pada stroke iskemik tertentu, dokter dapat mempertimbangkan obat untuk melarutkan bekuan darah atau tindakan trombektomi, yaitu prosedur untuk mengambil sumbatan dari pembuluh darah menggunakan teknik endovaskular. [5]

Pada stroke akibat perdarahan, penanganan dapat mencakup pengendalian tekanan darah, perawatan di unit khusus stroke, serta tindakan medis atau pembedahan tertentu bila diperlukan. [1]

Semakin cepat pasien mendapatkan evaluasi dan terapi yang sesuai, semakin besar peluang untuk memperoleh hasil yang lebih baik. [1,5]

 

Cara Mencegah Stroke Sehari-hari

Tidak semua stroke dapat dicegah, tetapi banyak faktor risikonya dapat dikendalikan. [1]

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan menurunkan risiko stroke meliputi:

  1. Periksa tekanan darah secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko.

  2. Hindari rokok dan paparan asap rokok.

  3. Lakukan aktivitas fisik secara rutin.

  4. Terapkan pola makan seimbang dengan lebih banyak buah dan sayuran serta membatasi asupan garam, lemak jenuh, dan gula.

  5. Jaga berat badan tetap sehat.

  6. Kendalikan diabetes dan kolesterol jika memilikinya.

  7. Batasi konsumsi alkohol.

  8. Kelola stres dan cukup tidur sebagai bagian dari pola hidup sehat. [1,2,4]

Kemenkes RI menganjurkan aktivitas fisik sebagai salah satu langkah penting dalam pengendalian faktor risiko stroke. [4]

 

Kapan Harus ke Rumah Sakit?

Jika muncul gejala yang mengarah pada stroke, segera ke rumah sakit. Jangan menunggu gejala menghilang dan jangan mencoba mengobatinya sendiri di rumah. [1,3]

Catat atau ingat kapan gejala pertama kali muncul, karena informasi mengenai waktu awal gejala dapat membantu tenaga kesehatan menentukan pilihan penanganan yang tepat. Penanganan stroke iskemik tertentu sangat bergantung pada waktu, sehingga evaluasi cepat sangat penting. [5]

Jika seseorang tiba-tiba mengalami wajah mencong, kelemahan pada satu sisi tubuh, bicara pelo, kebas, gangguan penglihatan, atau sakit kepala hebat yang tidak biasa, perlakukan kondisi tersebut sebagai keadaan darurat medis. [1,3]

 

Penutup

Stroke memang merupakan kondisi serius, tetapi memahami faktor risikonya dan mengenali gejalanya sejak awal dapat membantu kita mengambil tindakan yang tepat. Menjaga tekanan darah, tidak merokok, aktif bergerak, dan menerapkan pola makan seimbang juga merupakan investasi kesehatan yang dapat dimulai sejak usia muda.

Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala yang mencurigakan, jangan mencoba menebak penyebabnya atau menunggu hingga membaik. Segera cari pertolongan medis.

 

KEYWORDS: Kenali stroke sejak dini, mulai dari gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosis, penanganan, hingga langkah pencegahan dan kapan harus ke rumah sakit.

 

DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis atau saran medis profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan terpercaya.

 

SUMBER RUJUKAN:

[1] World Health Organization (2025). Stroke – Fact Sheet.

[2] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024). Cegah Stroke dengan Aktivitas Fisik.

[3] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024). Stroke, Ingat SeGeRa Ke RS!

[4] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024). Cegah Stroke dengan Aktivitas Fisik.

[5] American Heart Association/American Stroke Association (2026). 2026 Guideline for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke.